Istilah "pajak" mungkin sudah biasa kamu dengar sejak kecil. Beranjak dewasa, kamu pun dikenalkan dengan berbagai jenis pajak. Dari biaya tambahan saat makan di restoran mewah, pajak kendaraan dan rumah, sampai ketika masuk ke dunia kerja dan memiliki NPWP, kamu pun berkenalan dengan pajak penghasilan yang harus dilaporkan setiap tahunnya.

Pajak sendiri bisa diartikan sebagai kontribusi wajib oleh orang pribadi dan badan yang dibayarkan pada negara dan bersifat wajib berdasarkan undang-undang. Orang atau badan yang diharuskan untuk membayar pajak ini disebut Wajib Pajak.

Sesungguhnya, membayar pajak bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi juga termasuk hak tiap warga negara untuk dapat berpartisipasi dalam pembiayaan dan pembangunan negara demi memenuhi kebutuhan dan kemakmuran rakyat.

Sebagai pembayar atau wajib pajak, kamu memang tidak mendapatkan imbalan secara langsung. Namun, manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pembuatan dan penggunaan jalan, pemeliharaan fasilitas umum, pelayanan publik, dan sebagainya.

Kalau memiliki cita-cita tinggi untuk menjadi orang sukses secara finansial, ada baiknya kamu membekali diri dengan pengetahuan mengenai pajak. Tidak mau kan, niatnya flexing, malah kena denda atau sanksi karena kamu tidak paham bahwa sebagian harta punya nilai pajaknya masing-masing?

Kursus Pajak Intensif

kursus pajak intensif

Bekerja sama dengan Universitas Kristen Petra, Kuncie membuka kursus pajak intensif agar kamu tidak lagi bingung tentang perpajakan!

Daftar Sekarang!

Apa Itu Pajak?

  • Menurut KBBI

Pajak adalah pungutan wajib yang biasanya berupa uang. Uang tersebut dibayarkan oleh penduduk sebagai sumbangan wajib kepada negara atau pemerintah. Pajak merupakan penghubung dengan pendapatan, pemilik, harga beli barang, dan sebagainya.

  • Encyclopedia Britannica 

Pajak adalah pengenaan pungutan wajib bagi individu oleh pemerintah. Pajak hampir dipungut di setiap negara, ini dipakai untuk meningkatkan pendapatan pemerintah.

  • Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro SH

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari sektor partikular ke sektor pemerintahan) berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (tegen prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.

Sejarah Pajak

Keberadaan pajak sudah lama ada di dunia. Menurut para ahli dan filsuf pajak sudah ada jauh sebelum zaman Romawi dan Yunani Kuno, bahkan sejak zaman Firaun di Mesir.

DI zaman Julius Cesar, dikenal centesima rerum venalium, yakni sejenis pajak dengan tarif 1% dari omzet penjualan. Di daerah Italia dikenal decumae, yaitu pemungutan sebesar 10% dari para petani untuk penguasa tanah. Di Spanyol pada abad ke ke-16 terdapat alcabala, salah satu bentuk pajak penjualan.

Semantara itu di Indonesia sendiri, pajak sudah ada sejak zaman kerajaan, namun dalam bentuk dan sistem pungutan yang berbeda dan sangat tradisional. Dulu terdapat pungutan dalam bentuk natura (payment in kind), kerja paska, maupun dalam bentuk upeti dengan uang.

Contoh penerapan pajak pada zaman dahulu di Indonesia pada tahun 1813, zaman Raffles, dikenal pajak bumi atau land rent dan pajak atas rumah. Kultur stelsel juga merupakan bentuk pajak yang harus dibayarkan pada zaman penjajahan.

Fungsi Pajak

Hampir seluruh negara di dunia mengakui bahwa pajak dari waktu ke waktu menjadi sumber utama penerimaan negara dan menjadi alat utama untuk membiayai kegiatan pemerintah. Pajak juga merupakan bagian utama dari kebijakan fiskal dan menjadi alat mencapai tujuan di bidang ekonomi, budaya, dan sosial.

Fungsi lebih rincinya:

kemana pajak yang kita bayarkan?
  • Fungsi Anggaran

Di sini, pajak menjadi sumber dana utama untuk membiayai berbagai pengeluaran negara termasuk pembangunan. Alokasinya untuk pembiayaan rutin seperti penyediaan  dan pemeliharaan fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, pengadaan kebutuhan pegawai negeri, pelayanan publik, dan lainnya.

  • Fungsi Pengatur

Bayangkan jika besaran pajak ditepuk rata bagi para pemilik modal. Mungkin pengusaha kecil lokal akan lebih merasa terbebani, sementara konglomerat atau pelaku bisnis multinasional senantiasa di atas angin. Tentunya ini kurang baik untuk perkembangan perekonomian yang merata di Indonesia.

Pajak membantu pengaturan untuk pertumbuhan ekonomi ini melalui kebijakan tersebut. Misalnya, aturan penanaman modal baik di dalam maupun luar negeri, berbagai fasilitas keringanan pajak bagi golongan wajib pajak tertentu, hingga menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk dari luar negeri.

Melalui kebijakan ini, pemerintah bermaksud untuk mengurangi beban pajak bagi pelaku UMKM sekaligus mengajak mereka untuk masuk ke dalam sistem perpajakan.

  • Fungsi Stabilitas

Pajak berperan penting dalam menjaga keseimbangan perekonomian negara seperti untuk menghadapi inflasi atau deflasi. Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan ini. Contoh sederhananya adalah dengan mengatur bea masuk maupun PPN impor.

Jika inflasi dirasa terlalu tinggi, pemerintah dapat mengetatkan aturan pajak pada beberapa barang. Misalnya, kenaikan persentase PPN untuk pembelian kendaraan mobil atau barang mewah lainnya. Dengan begitu, diharapkan negara tetap bisa mendapatkan dana untuk penyediaan produk tertentu yang dibebankan kepada wajib pajak.

  • Fungsi Redistribusi Pendapatan

Fungsi pajak ini bisa juga dibilang sebagai sumber dana untuk membuka kesempatan kerja yang dapat dimanfaatkan oleh warga negara. Nantinya, ini berujung pada peningkatan pendapatan masyarakat.

Contohnya, pajak digunakaan untuk membuka lapangan kerja baru di suatu daerah. Dengan begitu, masyarakat di daerah tersebut akan mendapatkan sumber penghasilan baru yang meningkatkan kemakmuran di daerahnya.

Jenis-Jenis Pajak di Indonesia

  1. Pajak Penghasilan (PPh)

Pajak penghasilan adalah pungutan wajib yang dikenakan pada individu maupun sebuah perusahaan, baik dari mereka yang berasal dari dalam maupun luar negeri, berdasarkan jumlah pendapatan yang diterima dalam kurun waktu satu tahun. Saat ini, UU pajak penghasilan di Indonesia adalah UU No. 36 Tahun 2008.

PPh sendiri banyak jenis dan objeknya. Apa saja? Kita bahas lebih lengkap di artikel berikutnya, ya!

  1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Ini adalah jenis pajak yang cukup sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat makan di restoran, menginap di hotel, atau melakukan transaksi pada umumnya.

PPN merupakan pungutan yang dibebankan saat transaksi barang dan jasa yang dilakukan oleh wajib pajak pribadi, pengusaha, juga pemerintah.

Yang berkewajiban mengambil, menyetor, dan melaporkannya adalah para penjual. Namun, pajak ini dibebankan kepada pembeli atau konsumen akhir.

  1. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

Dari namanya, sudah bisa ditebak, ya? Ini adalah jenis pajak yang dibebankan untuk transaksi barang mewah. 

Tujuannya berkaitan dengan upaya pemerintah uhtuk menyeimbangkan beban pajak antara konsumen yang memiliki penghasilan tinggi dengan warga negara yang memiliki penghasilan lebih rendah. Begitu juga dengan pengendalian pola konsumerisme pada barang mewah dan perlindungan untuk produsen kecil.

Suatu produk dapat dikategorikan sebagai barang mewah jika memiliki beberapa kriteria seperti: bukan kebutuhan pokok, hanya dapat dimiliki oleh masyarakat dengan penghasilan di atas rata-rata, barang digunakan untuk menunjukkan status sosial.

Misalnya, gawai canggih dengan spek kelas tinggi, perhiasan, kendaraan mewah, dan sebagainya.

  1. Bea Materai

Kalau yang satu ini adalah jenis pajak yang dikenakan untuk dokumen yang memiliki sifat perdata atau membutuhkan kekuatan hukum. Jenis dokumen yang dikenakan bea materai biasanya berbentuk surat yang mengandung perjanjian terkait uang, dokumen perdata, dan dokumen pengadilan. Misalnya, kontrak perjanjian pengadaan barang pada suatu kantor.

  1. Pajak Bumi dan Bangunan

PBB adalah biaya yang harus dibayarkan atas keberadaan tanah dan bangunan yang memberikan keuntungan dan kedudukan sosial ekonomi bagi seseorang ataupun suatu badan.

Objek bumi misalnya, sawah, kebun, tanah, pekarangan. Sementara, objek bangunan dapat berwujud rumah, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, kolam renang, dan sebagainya.

Besaran pajak ditentukan dari keadaan objek bumi dan/atau bangunan. Semakin besar objek ini, semakin besar pula besaran pajak. Namun, penetapan angkanya juga bergantung pada kebijakan daerah yang disesuaikan nilai jual objek pajak.

Nah, sekarang sudah semakin paham ya, soal dasar ilmu perpajakan yang penting untuk kamu ketahui. Kalau masih penasaran dan bingung untuk menghitung berapa pajak yang seharusnya kamu bayar, kamu bisa ikut kursus pajak intensif di Kuncie, lho!

Sampai bertemu lagi, nantikan artikel-artikel pajak dari Kuncie berikutnya, ya!

Posted 
Nov 1, 2022
 in 
Upskilling
 category
This is some text inside of a div block.

More from 

Upskilling

 category

View All